Edukasi Konstruksi

Pekerjaan Konstruksi: Pengertian, Jenis, Tahapan, dan Contohnya

Pekerjaan Konstruksi Pengertian, Jenis, Tahapan, dan Contohnya

Pekerjaan konstruksi bukan hanya kegiatan membangun gedung dari nol. Istilah ini mencakup rangkaian pekerjaan yang jauh lebih luas, mulai dari pembangunan, pengoperasian, pemeliharaan, pembongkaran, hingga pembangunan kembali suatu bangunan.

Di lapangan, pekerjaan konstruksi bisa berupa pekerjaan pondasi rumah, pengecoran struktur gedung, pembangunan jalan, pemasangan rangka baja, rehabilitasi jembatan, hingga pekerjaan khusus yang membutuhkan metode dan tenaga dengan kompetensi tertentu.

Karena jenisnya sangat beragam, setiap pekerjaan membutuhkan perencanaan, tenaga kerja, material, peralatan, metode pelaksanaan, pengendalian mutu, serta pengelolaan keselamatan yang berbeda.

Apa Itu Pekerjaan Konstruksi?

Secara hukum, Undang Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi mendefinisikan pekerjaan konstruksi sebagai keseluruhan atau sebagian kegiatan yang meliputi pembangunan, pengoperasian, pemeliharaan, pembongkaran, dan pembangunan kembali suatu bangunan.

Definisi tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan konstruksi tidak berhenti ketika sebuah bangunan selesai berdiri.

Bangunan yang sudah beroperasi masih dapat membutuhkan pemeliharaan, rehabilitasi, perbaikan, perubahan tertentu, bahkan pembongkaran ketika sudah tidak dapat digunakan atau akan digantikan dengan bangunan baru.

Dalam praktik proyek, istilah pekerjaan konstruksi biasanya lebih dekat dengan aktivitas pelaksanaan fisik. Namun, pekerjaan tersebut tetap berhubungan dengan proses yang lebih luas seperti perencanaan, desain, pengadaan, pengawasan, manajemen proyek, dan serah terima.

Baca Juga: Apa Itu Konstruksi? Pengertian, Jenis, Tahapan, dan Contohnya

Perbedaan Konstruksi dan Pekerjaan Konstruksi

Konstruksi merupakan istilah yang lebih luas. Istilah ini dapat digunakan untuk menggambarkan proses, industri, metode, aktivitas, maupun hasil pembangunan.

Sementara pekerjaan konstruksi lebih mengarah pada kegiatan yang dilakukan terhadap suatu bangunan atau infrastruktur.

Misalnya, pembangunan gedung perkantoran merupakan sebuah proyek konstruksi. Di dalam proyek tersebut terdapat berbagai pekerjaan konstruksi seperti pekerjaan tanah, pondasi, struktur beton, dinding, atap, instalasi mekanikal dan elektrikal, hingga finishing.

Dengan kata lain, satu proyek konstruksi dapat terdiri dari banyak pekerjaan konstruksi yang berbeda.

Perbedaan ini penting karena setiap jenis pekerjaan bisa memiliki kebutuhan material, peralatan, tenaga kerja, risiko, biaya, dan metode pelaksanaan yang berbeda.

Jenis Pekerjaan Konstruksi yang Umum di Proyek

Tidak ada satu daftar yang dapat menggambarkan seluruh pekerjaan konstruksi karena jenisnya bergantung pada bangunan yang dikerjakan.

Namun, pada proyek gedung dan infrastruktur, beberapa kelompok pekerjaan berikut cukup sering ditemui.

1. Pekerjaan Persiapan

Sebelum struktur utama dibangun, lokasi proyek perlu dipersiapkan.

Pekerjaan persiapan dapat mencakup pembersihan lokasi, pengukuran, pemasangan pagar proyek, penyediaan akses sementara, pembangunan direksi keet, penyediaan utilitas sementara, mobilisasi alat, hingga penataan area penyimpanan material.

Tahap ini terlihat sederhana, tetapi pengelolaan lokasi yang buruk dapat mengganggu pekerjaan berikutnya.

Akses alat berat, jalur pekerja, lokasi penyimpanan material, dan pergerakan kendaraan proyek perlu direncanakan agar tidak saling menghambat.

2. Pekerjaan Tanah

Pekerjaan tanah dilakukan untuk menyesuaikan kondisi lahan dengan kebutuhan konstruksi.

Kegiatannya dapat berupa penggalian, penimbunan, pemadatan, pemotongan tanah, perataan, hingga pekerjaan stabilisasi sesuai kondisi proyek.

Pada bangunan gedung, pekerjaan tanah sering dilakukan sebelum pondasi.

Pada proyek jalan, pekerjaan tanah dapat menjadi bagian yang sangat besar karena kondisi elevasi dan bentuk lahan harus disesuaikan dengan desain trase.

Karakter tanah juga memengaruhi metode pekerjaan. Karena itu, proyek tertentu membutuhkan penyelidikan tanah sebelum desain dan konstruksi dilaksanakan.

3. Pekerjaan Pondasi

Pondasi berfungsi meneruskan beban bangunan ke tanah.

Jenis pondasi yang digunakan bergantung pada kondisi tanah, besarnya beban, bentuk bangunan, lingkungan sekitar, dan hasil perencanaan struktur.

Pada bangunan sederhana dapat digunakan jenis pondasi tertentu yang relatif dangkal. Sementara gedung bertingkat atau struktur dengan beban besar dapat membutuhkan pondasi dalam seperti tiang pancang atau bored pile.

Kesalahan pada pekerjaan pondasi berisiko memengaruhi bagian bangunan di atasnya sehingga pengendalian posisi, dimensi, material, dan metode kerja menjadi penting.

4. Pekerjaan Struktur

Pekerjaan struktur membentuk bagian utama bangunan yang menerima dan menyalurkan beban.

Pada gedung beton bertulang, pekerjaan struktur dapat meliputi kolom, balok, pelat lantai, tangga, dinding struktural, dan berbagai elemen lainnya.

Material yang digunakan tidak selalu beton. Sebuah proyek dapat menggunakan struktur baja, beton pracetak, kombinasi beberapa material, atau sistem lain sesuai desain.

Pekerjaan struktur harus mengikuti gambar, spesifikasi, serta standar teknis yang berlaku karena kesalahan pada tahap ini dapat memiliki dampak serius terhadap kinerja bangunan.

5. Pekerjaan Arsitektur

Setelah struktur terbentuk, proyek gedung biasanya mulai memasuki berbagai pekerjaan arsitektur.

Contohnya pemasangan dinding, kusen, pintu, jendela, lantai, plafon, fasad, pengecatan, waterproofing, dan berbagai pekerjaan finishing lainnya.

Pekerjaan arsitektur sangat terlihat oleh pengguna sehingga kualitas detail dan hasil akhir sering menjadi perhatian utama.

Namun, tampilan bukan satu-satunya aspek penting.

Material dan metode pemasangan juga harus memperhatikan fungsi, ketahanan, kemudahan pemeliharaan, dan kondisi lingkungan.

6. Pekerjaan Mekanikal, Elektrikal, dan Plumbing

Bangunan modern membutuhkan berbagai sistem agar dapat digunakan sesuai fungsinya.

Pekerjaan tersebut dapat mencakup instalasi listrik, pencahayaan, distribusi air bersih, air kotor, pompa, ventilasi, tata udara, sistem proteksi kebakaran, hingga sistem mekanikal lainnya.

Pada bangunan dengan fungsi kompleks seperti rumah sakit, hotel, pusat perbelanjaan, atau fasilitas industri, porsi pekerjaan ini bisa cukup besar.

Koordinasi dengan struktur dan arsitektur juga penting agar jalur pipa, kabel, ducting, dan peralatan tidak saling bertabrakan.

7. Pekerjaan Infrastruktur dan Sipil

Pada proyek di luar gedung, pekerjaan konstruksi dapat memiliki karakter yang berbeda.

Pembangunan jalan misalnya dapat melibatkan pekerjaan tanah, drainase, lapis pondasi, perkerasan, struktur pelengkap, marka, dan perlengkapan jalan.

Pembangunan jembatan dapat mencakup pondasi, abutment, pier, struktur utama, lantai jembatan, serta pekerjaan pendukung.

Sementara proyek bendungan, irigasi, pelabuhan, atau jaringan utilitas memiliki rangkaian pekerjaan yang disesuaikan dengan fungsi infrastrukturnya.

Tahapan Pekerjaan Konstruksi

Urutan pekerjaan setiap proyek tidak selalu sama. Namun, ada pola umum yang dapat digunakan untuk memahami bagaimana pekerjaan bergerak dari persiapan hingga selesai.

1. Persiapan Pelaksanaan

Sebelum pekerjaan utama dimulai, tim proyek mempelajari gambar, spesifikasi, kontrak, kondisi lapangan, jadwal, dan kebutuhan sumber daya.

Metode pelaksanaan juga perlu disusun agar pekerjaan dapat dilakukan dengan aman dan efisien.

Pada tahap ini dilakukan pula mobilisasi pekerja, peralatan, material awal, fasilitas proyek, dan berbagai kebutuhan pendukung lainnya.

2. Pengadaan Material dan Peralatan

Material tidak cukup hanya tersedia. Jenis dan mutunya harus sesuai dengan spesifikasi pekerjaan.

Proyek juga perlu mengatur kapan material tiba agar tidak terlalu cepat memenuhi area penyimpanan atau justru terlambat dan menghambat pekerjaan.

Hal yang sama berlaku pada alat.

Crane, excavator, concrete pump, scaffolding, alat angkat, maupun berbagai peralatan lain perlu dijadwalkan berdasarkan kebutuhan pekerjaan.

3. Pelaksanaan Pekerjaan

Pada tahap ini kegiatan fisik utama dilakukan berdasarkan gambar, metode kerja, jadwal, dan spesifikasi yang telah ditentukan.

Setiap pekerjaan harus berkoordinasi dengan pekerjaan sebelum dan sesudahnya.

Sebagai contoh, instalasi tertentu mungkin perlu dipasang sebelum pengecoran dilakukan. Jika koordinasinya terlambat, pekerjaan yang sudah selesai bisa harus dibongkar atau diperbaiki.

Karena itu, proyek konstruksi bukan sekadar kumpulan pekerja yang menyelesaikan tugas masing-masing. Urutan pekerjaan harus dikendalikan sebagai satu sistem.

Pengendalian Mutu dalam Pekerjaan Konstruksi

Pekerjaan yang terlihat selesai belum tentu memenuhi mutu yang dipersyaratkan.

Pengendalian mutu dilakukan untuk memastikan material dan hasil pekerjaan sesuai gambar, spesifikasi, standar teknis, dan ketentuan proyek.

Bentuknya dapat berupa pemeriksaan material, inspeksi pekerjaan, pengukuran, dokumentasi, hingga pengujian tertentu.

Misalnya, pekerjaan struktur beton dapat membutuhkan pengendalian terhadap material, penulangan, bekisting, proses pengecoran, dan mutu beton.

Pekerjaan waterproofing dapat membutuhkan pengujian untuk memastikan tidak terjadi kebocoran.

Sementara instalasi listrik, plumbing, maupun sistem mekanikal juga membutuhkan pemeriksaan dan pengujian sebelum digunakan.

Semakin cepat ketidaksesuaian ditemukan, semakin mudah pekerjaan diperbaiki sebelum tertutup pekerjaan lain.

Keselamatan dalam Pekerjaan Konstruksi

Pekerjaan konstruksi memiliki risiko yang berbeda-beda.

Penggalian memiliki risiko longsor atau jatuh ke area galian. Pekerjaan di ketinggian memiliki risiko jatuh. Pekerjaan lifting melibatkan beban yang bergerak. Sementara pekerjaan kelistrikan membawa risiko tersengat maupun kebakaran.

Karena itu, keselamatan tidak seharusnya dianggap sebagai kegiatan tambahan.

Permen PUPR Nomor 10 Tahun 2021 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi mengatur penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi dalam penyelenggaraan jasa konstruksi. Regulasi tersebut berstatus berlaku.

Dalam pelaksanaannya, keselamatan perlu masuk ke metode kerja, penggunaan peralatan, pengaturan lokasi proyek, kompetensi pekerja, hingga pengendalian potensi bahaya.

Alat pelindung diri merupakan salah satu bagian, bukan keseluruhan sistem keselamatan.

Pemeriksaan dan Serah Terima Pekerjaan

Setelah suatu pekerjaan selesai, hasilnya perlu diperiksa sebelum dianggap diterima.

Pada proyek gedung, proses ini dapat dilakukan secara bertahap sesuai jenis pekerjaan.

Jika ditemukan ketidaksesuaian atau cacat pekerjaan, kontraktor dapat diminta melakukan perbaikan sebelum tahap berikutnya berjalan atau sebelum pekerjaan diserahterimakan.

Pada akhir proyek juga dapat dilakukan pengujian atau commissioning untuk sistem tertentu.

Tujuannya memastikan bangunan tidak hanya selesai secara visual, tetapi seluruh komponen dapat menjalankan fungsi sebagaimana direncanakan.

Dokumen proyek seperti gambar akhir, laporan pengujian, dokumentasi pekerjaan, manual operasi, atau dokumen lain sesuai kontrak juga dapat menjadi bagian penting dalam proses penutupan pekerjaan.

Siapa yang Melaksanakan Pekerjaan Konstruksi?

Pekerjaan fisik umumnya dilakukan oleh penyedia pekerjaan konstruksi atau kontraktor.

Namun, pelaksanaannya dapat melibatkan banyak pihak.

Kontraktor utama dapat memiliki tenaga dan tim sendiri sekaligus bekerja dengan subkontraktor yang menangani pekerjaan tertentu.

Pada satu proyek gedung, misalnya, terdapat pelaksana pekerjaan struktur, arsitektur, mekanikal, elektrikal, plumbing, fasad, interior, hingga berbagai pekerjaan khusus.

Di sisi lain terdapat konsultan, pengawas, manajemen konstruksi, tenaga ahli, pemasok material, laboratorium, dan pihak lain yang mendukung pelaksanaan proyek.

Pembagian tanggung jawab tersebut bergantung pada kontrak dan sistem penyelenggaraan yang digunakan.

Baca Juga: Jasa Konstruksi: Pengertian, Ruang Lingkup, Jenis Usaha, dan Pelakunya

Contoh Pekerjaan Konstruksi di Berbagai Proyek

Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa gambaran pekerjaan berdasarkan jenis proyek.

Proyek Rumah Tinggal

Pekerjaannya dapat meliputi persiapan lahan, pondasi, struktur, pasangan dinding, atap, instalasi listrik, plumbing, lantai, plafon, pengecatan, serta penyelesaian lainnya.

Proyek Gedung Bertingkat

Selain pekerjaan dasar seperti pondasi dan struktur, proyek ini dapat membutuhkan pekerjaan fasad, lift, sistem tata udara, proteksi kebakaran, sistem kelistrikan berkapasitas besar, hingga berbagai sistem keamanan dan kontrol bangunan.

Proyek Jalan

Kegiatannya dapat berupa pembersihan lahan, pekerjaan tanah, drainase, pembangunan lapis pondasi, perkerasan, struktur pendukung, marka, dan perlengkapan jalan.

Proyek Jembatan

Pekerjaan dapat mencakup pondasi, struktur bawah, pier atau abutment, struktur atas, lantai kendaraan, sambungan, pengaman, hingga pekerjaan akses menuju jembatan.

Renovasi dan Rehabilitasi

Pekerjaan konstruksi tidak harus menghasilkan bangunan baru.

Renovasi dapat melibatkan pembongkaran bagian tertentu, penguatan struktur, perubahan tata ruang, penggantian utilitas, perbaikan fasad, hingga peningkatan fungsi bangunan.

Mengapa Urutan Pekerjaan Konstruksi Penting?

Kesalahan urutan dapat membuat pekerjaan menjadi lebih mahal dan lambat.

Jika dinding sudah ditutup sebelum jalur instalasi selesai, bagian tersebut mungkin harus dibongkar kembali.

Jika material datang terlalu awal, area proyek bisa penuh dan mengganggu mobilitas. Sebaliknya, keterlambatan material utama dapat membuat tenaga kerja menunggu tanpa pekerjaan.

Masalah serupa dapat terjadi jika gambar belum terkoordinasi tetapi pekerjaan sudah dilaksanakan.

Karena itu, jadwal proyek bukan hanya daftar tanggal mulai dan selesai. Jadwal harus mempertimbangkan hubungan antarpekerjaan, kebutuhan material, peralatan, tenaga kerja, kondisi lapangan, dan pekerjaan yang menjadi prasyarat bagi pekerjaan berikutnya.

Pekerjaan Konstruksi adalah Rangkaian yang Saling Terhubung

Melihat pekerjaan konstruksi hanya dari aktivitas di lapangan membuat gambaran proyek menjadi terlalu sederhana.

Di balik pekerjaan pengecoran, pemasangan baja, pembangunan jalan, atau finishing gedung terdapat rangkaian perencanaan, koordinasi, pengadaan, pengendalian mutu, keselamatan, pemeriksaan, dan dokumentasi.

Setiap pekerjaan memiliki fungsi dan urutan yang saling berkaitan.

Pondasi harus mampu mendukung struktur di atasnya. Struktur harus mengakomodasi kebutuhan arsitektur dan instalasi. Pekerjaan finishing membutuhkan pekerjaan sebelumnya selesai dengan mutu yang sesuai.

Karena itu, keberhasilan pekerjaan konstruksi tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat suatu pekerjaan selesai.

Hasil akhirnya juga harus sesuai fungsi, gambar, spesifikasi, standar teknis, ketentuan keselamatan, serta persyaratan proyek yang telah disepakati.