KBLI konstruksi menjadi salah satu hal pertama yang perlu dipahami ketika mendirikan atau mengembangkan perusahaan jasa konstruksi. Kode ini digunakan untuk mengidentifikasi kegiatan usaha perusahaan dan menjadi salah satu dasar dalam proses perizinan melalui OSS.
Masalahnya, memilih KBLI bukan sekadar mencari kode yang namanya paling mirip dengan jasa yang ingin dijual. Satu kegiatan konstruksi dapat memiliki ruang lingkup yang berbeda, sementara kode yang terlihat hampir sama belum tentu mencakup pekerjaan yang sama.
Situasinya juga berubah setelah diterbitkannya KBLI 2025 sebagai pembaruan atas KBLI 2020. Badan Pusat Statistik menetapkan KBLI 2025 melalui Peraturan BPS Nomor 7 Tahun 2025. OSS saat ini juga sudah menyediakan pencarian menggunakan KBLI 2025 sekaligus informasi konversi dari kode sebelumnya.
Apa Itu KBLI Konstruksi?
KBLI adalah singkatan dari Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia.
Secara sederhana, KBLI digunakan untuk mengelompokkan aktivitas ekonomi berdasarkan karakter kegiatan yang dilakukan.
Artinya, KBLI bukan izin usaha dan bukan pula sertifikat badan usaha.
KBLI menjelaskan kegiatan ekonomi apa yang dijalankan perusahaan. Dari kegiatan tersebut, sistem perizinan kemudian dapat menentukan persyaratan yang berkaitan dengan usaha tersebut.
Dalam sektor konstruksi, kode usaha digunakan untuk membedakan kegiatan seperti pembangunan gedung, konstruksi jalan, pekerjaan instalasi, penyelesaian bangunan, hingga berbagai pekerjaan khusus lainnya.
Karena itu, dua perusahaan yang sama-sama disebut “kontraktor” belum tentu memiliki KBLI konstruksi yang sama.
Kontraktor gedung, kontraktor jalan, perusahaan pemasangan instalasi, dan kontraktor spesialis bisa memiliki kode kegiatan berbeda sesuai pekerjaan yang benar-benar dijalankan.
Baca Juga: Apa Itu Konstruksi? Pengertian, Jenis, Tahapan, dan Contohnya
KBLI 2025 Menjadi Acuan Terbaru
KBLI diperbarui secara berkala agar klasifikasi kegiatan ekonomi tetap sesuai dengan perkembangan bisnis.
BPS resmi menerbitkan KBLI 2025 pada Desember 2025 sebagai pembaruan atas KBLI 2020. Versi ini mengacu pada International Standard Industrial Classification of All Economic Activities atau ISIC Revision 5.
Untuk pelaku usaha, perubahan versi tidak berarti seluruh perusahaan harus mendirikan usaha atau mengurus perizinan dari awal.
Pemerintah pada April 2026 menegaskan bahwa implementasi KBLI 2025 tidak otomatis mewajibkan pelaku usaha mengurus perizinan baru. Penyesuaian dapat dilakukan melalui mekanisme yang ditetapkan pemerintah dan pada kondisi tertentu diproses melalui sistem OSS.
Meski demikian, perusahaan tetap perlu memeriksa apakah kode yang dimiliki masih sesuai dengan kegiatan aktualnya, terutama ketika akan menambah bidang usaha, mengembangkan SBU, atau masuk ke jenis proyek baru.
Bagaimana Struktur Kode KBLI Dibaca?
Kode KBLI memiliki struktur bertingkat.
Pada sektor konstruksi, struktur dasarnya dapat dilihat dari kategori hingga kelompok kegiatan yang semakin spesifik.
Sebagai contoh, pada KBLI 2025:
F menunjukkan kategori Konstruksi.
41 menunjukkan golongan pokok Konstruksi Gedung Hunian dan Gedung Nonhunian.
410 merupakan golongan Konstruksi Gedung Hunian dan Gedung Nonhunian.
4101 merupakan subgolongan Konstruksi Konvensional Bangunan Gedung.
41011 merupakan kelompok Konstruksi Konvensional Gedung Hunian.
Semakin panjang kode, semakin spesifik aktivitas yang dijelaskan.
Untuk kebutuhan perizinan perusahaan, biasanya kode lima digit menjadi bagian yang paling sering ditemui karena menunjukkan kelompok kegiatan usaha secara lebih rinci.
OSS saat ini menampilkan struktur tersebut sekaligus uraian kegiatan dan ruang lingkup masing-masing kode.
Tiga Kelompok Besar KBLI Konstruksi
Pada KBLI 2025, kategori F Konstruksi dibagi menjadi tiga golongan pokok utama, yaitu 41, 42, dan 43.
KBLI 41: Konstruksi Gedung Hunian dan Gedung Nonhunian
Golongan pokok 41 berkaitan dengan pembangunan bangunan gedung.
Ruang lingkupnya dapat mencakup gedung hunian maupun nonhunian seperti rumah, apartemen, kantor, rumah sakit, sekolah, hotel, toko, gudang, tempat ibadah, dan berbagai bangunan lainnya.
KBLI 2025 juga membedakan pekerjaan berdasarkan metode konstruksinya.
Sebagai contoh, kode 41011 Konstruksi Konvensional Gedung Hunian mencakup pembangunan, pemeliharaan, pembangunan kembali, perubahan, dan renovasi bangunan hunian dengan metode konvensional.
Jadi perusahaan yang fokus pada pembangunan gedung perlu melihat lebih jauh daripada sekadar memilih “konstruksi gedung”.
Jenis bangunan dan ruang lingkup pekerjaannya tetap harus diperiksa.
KBLI 42: Konstruksi Bangunan Sipil
Golongan pokok 42 mencakup berbagai pekerjaan konstruksi infrastruktur.
Contohnya dapat berupa jalan, jalan rel, jembatan, jaringan utilitas, bangunan sumber daya air, fasilitas industri tertentu, fasilitas pertambangan, hingga berbagai bangunan sipil lainnya.
Karakter pekerjaan pada kelompok ini sangat berbeda dengan konstruksi gedung.
Perusahaan yang mengerjakan gedung tidak otomatis memiliki kode usaha yang sesuai untuk mengerjakan seluruh proyek jalan, jembatan, atau fasilitas industri.
Karena itu, rencana pasar perusahaan harus menjadi pertimbangan sejak memilih KBLI.
KBLI 43: Konstruksi Khusus
Golongan pokok 43 digunakan untuk kegiatan konstruksi khusus yang biasanya mengerjakan bagian tertentu dari proses pembangunan.
Contohnya dapat berupa persiapan lokasi, pekerjaan instalasi, penyelesaian konstruksi, pemasangan elemen tertentu, dan berbagai pekerjaan spesialis.
Salah satu contoh pada KBLI 2025 adalah kelompok 43301 Pemasangan Kaca, Pintu, Kusen, Jendela, dan Sejenisnya.
OSS menunjukkan kode tersebut memiliki ruang lingkup yang lebih spesifik dan terkait dengan subklasifikasi jasa konstruksi tertentu.
Ini menggambarkan mengapa kontraktor spesialis tidak selalu tepat menggunakan KBLI kontraktor gedung umum.
Tidak Semua Jasa Konstruksi Berada di Kategori F
Ini salah satu hal yang sering membingungkan pelaku usaha.
Kategori F memang bernama Konstruksi, tetapi tidak semua layanan yang terkait proyek konstruksi otomatis berada di kategori tersebut.
Contohnya kegiatan arsitektur, keinsinyuran, konsultasi teknis, dan kegiatan manajemen proyek yang berkaitan dengan konstruksi dapat berada pada kelompok aktivitas profesional dan teknis.
OSS sendiri pada uraian konstruksi gedung mengecualikan kegiatan arsitektur, keinsinyuran, dan manajemen proyek konstruksi dari golongan konstruksi gedung serta mengarahkannya ke golongan 711.
Artinya, perusahaan yang ingin menjalankan bisnis konsultan konstruksi tidak seharusnya hanya mencari kode di kategori F.
Kegiatan utama perusahaan harus dilihat terlebih dahulu.
Apakah perusahaan membangun secara fisik?
Apakah memberikan jasa perencanaan?
Apakah menyediakan konsultasi teknis?
Apakah mengelola proyek?
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut akan menentukan kelompok KBLI yang lebih relevan.
Baca Juga: Jasa Konstruksi: Pengertian, Ruang Lingkup, Jenis Usaha, dan Pelakunya
Apa Hubungan KBLI Konstruksi dengan OSS?
OSS menggunakan KBLI untuk mengidentifikasi jenis kegiatan usaha yang dijalankan pelaku usaha.
Ketika perusahaan memilih sebuah KBLI, sistem dapat menampilkan ruang lingkup, tingkat risiko, skala usaha, serta kewajiban dan perizinan yang berkaitan dengan kegiatan tersebut.
Karena itu, KBLI seharusnya dipilih berdasarkan aktivitas yang benar-benar akan dilakukan.
Memasukkan banyak kode tanpa strategi tidak otomatis membuat perusahaan dapat mengerjakan lebih banyak proyek.
Setiap kegiatan tetap dapat memiliki persyaratan usaha masing-masing.
Selain itu, kegiatan konstruksi memiliki hubungan dengan persyaratan sektoral yang tidak berhenti pada NIB.
Badan usaha jasa konstruksi juga perlu memperhatikan sertifikasi badan usaha dan persyaratan kemampuan yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang dijalankan.
Apa Hubungan KBLI dengan SBU?
KBLI dan Sertifikat Badan Usaha atau SBU saling berkaitan tetapi bukan hal yang sama.
KBLI mengklasifikasikan kegiatan usaha perusahaan.
Sementara SBU menunjukkan pengakuan terhadap kemampuan badan usaha jasa konstruksi pada klasifikasi dan subklasifikasi tertentu.
Hubungan keduanya dapat terlihat langsung pada OSS.
Sebagai contoh, halaman KBLI 2025 untuk kode 41011 Konstruksi Konvensional Gedung Hunian menampilkan ruang lingkup yang terhubung dengan kode subklasifikasi konstruksi gedung hunian.
Pada pekerjaan spesialis juga terdapat hubungan serupa. KBLI 43301, misalnya, pada OSS memiliki ruang lingkup yang terhubung dengan subklasifikasi pengerjaan pemasangan kaca dan aluminium.
Namun, jangan menyimpulkan bahwa satu KBLI selalu identik dengan satu SBU.
Satu kode KBLI dapat memiliki lebih dari satu ruang lingkup atau hubungan subklasifikasi, tergantung kegiatan dan regulasi yang berlaku.
Karena itu, ketika menyiapkan legalitas perusahaan konstruksi, KBLI dan SBU harus dipetakan bersama.
Cara Memilih KBLI Konstruksi yang Tepat
Kesalahan memilih kode biasanya terjadi karena perusahaan menentukan KBLI dari nama proyek, bukan dari kegiatan yang benar-benar dilakukan.
Pendekatan yang lebih aman adalah memulainya dari model bisnis.
1. Tentukan Layanan Utama Perusahaan
Tulis dengan jelas apa yang sebenarnya dijual perusahaan.
Misalnya:
- Membangun rumah dan apartemen.
- Mengerjakan gedung komersial.
- Membangun jalan.
- Memasang fasad dan kaca.
- Melakukan instalasi mekanikal dan elektrikal.
- Menyediakan jasa desain dan engineering.
Jangan berhenti pada kalimat “bergerak di bidang konstruksi”.
Istilah tersebut masih terlalu luas untuk menentukan kode.
2. Cari Kode Berdasarkan Aktivitas
Gunakan pencarian KBLI pada OSS dan baca uraian lengkapnya.
Jangan hanya membaca judul.
Dua kode dengan nama hampir sama bisa memiliki batas aktivitas yang berbeda.
Perhatikan apa yang termasuk dan apa yang secara eksplisit dikecualikan.
3. Periksa Versi KBLI
Untuk pengajuan atau pengembangan usaha baru, gunakan informasi KBLI terbaru yang tersedia dalam sistem OSS.
Saat ini OSS telah menyediakan KBLI 2025 serta informasi dampak konversi dari KBLI 2020 untuk berbagai kode.
Jika perusahaan sudah memiliki NIB lama, periksa hasil konversinya sebelum melakukan perubahan data.
4. Periksa Ruang Lingkup dan Subklasifikasi
Untuk sektor jasa konstruksi, jangan berhenti setelah menemukan kode lima digit.
Buka bagian ruang lingkup pada OSS.
Pada bagian tersebut dapat terlihat hubungan dengan subklasifikasi sektoral serta persyaratan yang berkaitan dengan kegiatan usaha.
Langkah ini penting jika perusahaan nantinya akan mengurus atau mengembangkan SBU.
5. Cocokkan dengan Strategi Bisnis
KBLI seharusnya mendukung arah bisnis perusahaan.
Jika perusahaan ingin fokus sebagai kontraktor gedung, susunan kegiatan usahanya tentu berbeda dengan perusahaan yang ingin menjadi kontraktor jalan atau spesialis instalasi.
Perusahaan yang baru berdiri juga tidak harus memasukkan semua kode konstruksi sekaligus.
Lebih baik bidang usaha disusun berdasarkan kemampuan, sumber daya, tenaga kerja, dan pasar yang benar-benar ingin dikejar.
Contoh Kesalahan Memilih KBLI
Bayangkan sebuah perusahaan menerima pekerjaan pemasangan kaca dan aluminium pada proyek gedung.
Karena proyeknya berada pada bangunan gedung, perusahaan memilih kode konstruksi gedung.
Padahal kegiatan aktualnya bukan membangun keseluruhan gedung, tetapi mengerjakan bagian spesifik dari proses konstruksi.
Pada KBLI 2025 terdapat kode 43301 yang secara spesifik mencakup pemasangan kaca, pintu, kusen, jendela, curtain wall tertentu, dan kegiatan sejenis.
Contoh ini menunjukkan pentingnya membaca aktivitas yang sebenarnya dilakukan.
Hal serupa berlaku pada konsultansi.
Perusahaan yang menyediakan manajemen proyek tidak otomatis tepat memilih KBLI konstruksi gedung hanya karena proyek yang dikelolanya adalah gedung.
Apakah Satu Perusahaan Bisa Memiliki Banyak KBLI?
Bisa, selama kegiatan tersebut memang dijalankan dan sesuai dengan ketentuan perusahaan serta sistem perizinan.
Perusahaan konstruksi dapat memiliki beberapa kegiatan usaha apabila model bisnisnya memang mencakup beberapa jenis pekerjaan.
Tetapi ada perbedaan antara boleh mencantumkan kegiatan dengan mampu memenuhi seluruh persyaratan untuk menjalankannya.
Dalam jasa konstruksi, bidang tertentu dapat membutuhkan SBU, tenaga kerja dengan kompetensi tertentu, kemampuan keuangan, pengalaman, peralatan, maupun persyaratan lain.
Karena itu, menambah KBLI sebaiknya menjadi keputusan bisnis, bukan sekadar menambah daftar kegiatan.
KBLI Lama dan KBLI 2025, Apa yang Harus Dilakukan?
Jika perusahaan sudah berdiri menggunakan KBLI 2020, tidak perlu langsung berasumsi bahwa seluruh legalitas harus dibuat ulang.
BPS telah menerbitkan tabel konversi KBLI 2020 ke KBLI 2025 untuk membantu pelaku usaha melihat hubungan antara kode lama dan kode baru. Pemerintah juga menyatakan implementasi KBLI 2025 tidak dengan sendirinya mewajibkan perusahaan memperoleh perizinan baru.
Namun, tetap periksa kode perusahaan.
Ada kode yang tetap satu banding satu tetapi hanya mengalami penyesuaian nama atau uraian. Ada pula kegiatan yang mengalami perubahan struktur.
OSS saat ini menampilkan informasi dampak konversi langsung pada halaman detail beberapa KBLI sehingga dapat digunakan sebagai titik awal pengecekan.
KBLI Harus Mengikuti Bisnis, Bukan Sebaliknya
KBLI konstruksi seharusnya menjadi representasi dari kegiatan yang benar-benar dijalankan perusahaan.
Bukan sekadar angka yang dimasukkan agar NIB dapat terbit.
Pemilihan kode akan memengaruhi bagaimana kegiatan perusahaan terbaca dalam sistem OSS, ruang lingkup usaha yang muncul, serta persyaratan sektoral yang perlu dipenuhi.
Untuk perusahaan jasa konstruksi, prosesnya juga harus dilihat bersama kebutuhan SBU, subklasifikasi, kompetensi tenaga kerja, kemampuan badan usaha, dan jenis proyek yang ingin dikejar.
Karena itu, sebelum menambahkan sebuah kode usaha, pastikan tiga hal terlebih dahulu: apa layanan yang akan dijual, pekerjaan apa yang benar-benar dilakukan, dan persyaratan apa yang muncul dari kegiatan tersebut.
Pendekatan ini jauh lebih aman daripada mengambil sebanyak mungkin KBLI tetapi baru memikirkan kesesuaiannya ketika perusahaan hendak mengurus SBU atau mengikuti pekerjaan.
Konsultasi Sekarang
